Kisah ini dipetik dari blog MJ Effendi, wajahnya ada di foto. Dalam bahasa Indonesia
Pada kesempatan kali ini saya ingin menceritakan kisah hidup dari guru saya, Syaikh Imam Ashaari bin Muhammad At-Tamimi. Beliau adalah seorang Melayu keturunan arab. Nasabnya bersambung hingga Sayyidina Abu Bakar r.a.
Cerita ini saya dengar sendiri dari Tn. Drh. Fathoni pada kuliah pagi bagi peserta kursus kuarantin Bandar Sentul Zon Jawa 1 tanggal 1 Januari 2012. Beliau sendiri mendengar cerita ini dari Tn. Maarof Hj Kassim, dari Phuket, Thailand.
Cerita ini berlaku pada suatu ketika di Thailand. Beliau mengajak beberapa murid dan pengikutnya untuk XPDC pagi di Thailand menggunakan bis (bas) double-decker kepunyaan Al-Arqam sambil berkuliah.
Rutinitasnya, beliau sangat tidak suka tidur pagi, karena ia termasuk salah satu lambang kepapaan. Jadi pada pagi hari, beliau akan membuat suatu majlis ilmu yang menceritakan tentang berbagai macam ilmu seperti Tauhid, Fiqh, Tasauf, pendidikan, kebudayaan, pengalaman hidup dan lain sebagainya. Beliau sangat suka untuk membagi ilmu, cerita dan pengalamannya pada orang lain.
Beliau juga suka bersedekah, salah satu kebiasaannya ialah, ketika beliau XPDC dan makan di sebuah rumah makan, beliau bukan saja membayar makanan untuk dirinya dan peserta XPDC, melainkan seluruh pelanggan yang tengah berada di rumah makan tersebut. Begitulah akhlaknya jika ingin diceritakan.
Jadi pada XPDC pagi itu, beliau bercerita tentang Sayyidi Syaikh (Muhammad bin Abdullah As Suhaimi), dan juga bercerita tentang malaikat. Beliau bilang, malaikat itu besar sekali. Malaikat itu mempunyai sayap yang juga besar, akan lebih besar lagi jika dikepakkan sayapnya seperti burung.
Pagi itu, beliau dan para peserta XPDC berhenti di sebuah rumah makan untuk bersarapan pagi. Setelah selesai sarapan dan membayar untuk semua yang ada di situ, beliau berjalan keluar dari rumah makan tersebut menuju bis yang diparkir berdekatan pasar di seberang jalan. Dengan hati-hati beliau melintasi jalan raya tersebut, namun tiba-tiba muncul truk yang melaju dengan kecepatan tinggi dan terlihat seperti menabrak beliau dengan begitu cepat. Beliau pun terpental dengan kuat dan jatuh terduduk di persekitaran pasar. Truk itu pun terhenti dengan serta merta seolah ada yang memaksanya berhenti.
Dari kejadian tersebut, yang mengejutkan ialah dengan santainya beliau bangun berdiri dan membersihkan jubahnya yang terkotori oleh debu pasar dan kembali berjalan dengan santai. Lain halnya dengan para peserta XPDC yang masih lagi terkejut dengan hal itu, mereka sangat mencemaskan keadaan tuan guru lalu terus mengejar (berkejar menemui) beliau.
Ada beberapa orang peserta XPDC yang lain bergegas menuju truk tersebut dan mendapati supir dari truk tersebut tercengang dan seolah tidak sedar apa yang baru saja berlaku. Melihat hal itu, seorang dari peserta XPDC berinisiatif menepuk bahu supir truk tersebut.
Setelah ditepuk supir truk itu tersedar dari lamunannya, seolah ia baru kembali dari tempat lain ia merasa terkejut melihat keadaan sekelilingnya.
Setelah sedikit sadar, ada peserta XPDC yang meminta kejelasan dari apa yang berlaku dari supir truk tersebut. Supir truk tersebut mengatakan bahwa ia tidak melihat ada orang yang melintas. Dia berkata, ketika melaju dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba ia melihat ada burung yang sangat besar dan menabrak burung tersebut. Setelah menabrak burung tersebut, ia merasa seolah diangkat dan di berhentikan secara paksa. Ternyata memang betul, tiada bekas roda atau kesan pada badan jalan yang menggambarkan bahwa supir truk tersebut menginjak rem (tekan brek) dengan paksa.
Para peserta XPDC pun akhirnya bersyukur karena dari kejadian tersebut, selain tidak terjadi apa-apa pada tuan guru mereka, juga secara tidak langsung mereka mendapat ilmu mengenai malaikat. Setelah mendapat cerita dari tuan guru tentang malaikat, para peserta langsung “diberikan” contoh dan bukti langsung oleh Allah S.W.T yang menjelaskan lagi tentang salah satu makhluk Allah, yakni malaikat.
